BANDAR LAMPUNG (Harian.co) — Terlepas dari serangkaian peristiwa yang terjadi di kepolisian akhir-akhir ini, berbagai upaya untuk meningkatkan pelayanan dan kepercayaan masyarakat harus terus dilakukan. Apalagi ada beberapa peristiwa yang berdampak pada penurunan kepercayaan, maka respon cepat harus segera dilakukan sesuai dengan arahan pimpinan. Termasuk memperhatikan dan melaksanakan arahan Presiden RI yang telah memanggil seluruh pimpinan Polri ke Istana Negara.

Itulah sebabnya, Kapolda Lampung Irjen. Pol. Dr. Akhmad Wiyagus segera menindaklanjuti dengan berbagai terobosan inovatif dalam melakukan percepatan pemulihan kepercayaan publik tersebut melalui berbagai program. Salah satunya mengundang Human Empowerment Consultant Dede Farhan Aulawi, yang mana ia juga pimpinan Lembaga Pengembangan Profesi dan Teknologi Kepolisian (LP2TK).

Pada kesempatan tersebut, Dede sangat mengapresiasi respon trengginas dari pak Kapolda dengan menyampaikan sebuah paparan 'Strategi dan Komitmen Kolektif Dalam Percepatan Pemulihan Kepercayaan Publik' melalui Kepemimpinan Kontemporer untuk membentuk insan bhayangkara yang memiliki karakter PRESISI dan BERINTEGRITAS.

"Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada  bapak Kapolda Lampung yang merespon cepat arahan Kepala Negara dan juga pak Kapolri dengan berbagai terobosan inovatif untuk mempercepat pemulihan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Dimana seperti diketahui bersama, sebelumnya ada beberapa peristiwa yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri," ujar Dede Farhan Aulawi di Bandar Lampung, Senin (25/10/2022).

Hal tersebut memang sejalan dengan apa yang terus dilakukan Dede Farhan Aulawi untuk mewujudkan Polri yang lebih baik dan lebih baik lagi. Salah satu subjek materi yang ia sampaikan adalah Kepemimpinan Kontemporer (Contemporary Leadership).

Beberapa atribut dalam kepemimpinan kontemporer meliputi karakter pimpinan yang kreatif dan berintegritas yang tentu sejalan dengan harapan Kapolri untuk mewujudkan polri yang presisi.

Di samping itu, ia juga harus memiliki visi yang futuristik untuk menjawab tantangan zaman ke depan yang relevan dengan tupoksi Polri. Kemudian ada keinginan kuat untuk terus belajar dan membaca dalam memperkaya khazanah berfikir serta keluwasan wawasan. Terutama terkait dengan pengaruh dan perkembangan teknologi digital, atau dikenal dengan istilah 'Learning Culture Establishment'.

Selanjutnya terus mengasah kemampuan dalam mencermati dan menganalisis multi variabel dalam lingkungan strategis, baik nasional, regional dan internasional. Terakhir kemauan dan kemampuan serta semangat untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan (Continuous Improvement).

Dengan semangat tidak ada yang terbaik, tapi pasti akan selalu ada yang lebih baik. Baik dari perspektif efisien maupun produktivitas kerja yang berorientasi pada pengabdian yang terbaik pada bangsa dan negara.

Kemudian Dede juga menjelaskan bahwa kegiatannya di Polda Lampung diinisiasi Pak Kapolda Lampung dan diikuti oleh seluruh Pejabat Utama (PJU) dan perwira Polda Lampung. Kemudian kegiatan tersebut dilanjutkan di 14 polres yang berada di lingkungan Polda Lampung.

Menurut Dede, reformulasi komitmen pelaksanaan tugas, dedikasi dan profesionalitas dalam pengabdian pada nusa dan bangsa sangat diperlukan, agar terbangun sebuah niat yang lurus dan ikhlas dalam pelaksanaannya.

Jadi tidak semua pekerjaan harus dikonversi ke dalam hasil yang bersifat materil semata, tetapi juga sebagai panggilan ibadah untuk meraih keberkahan dan kemuliaan dalam kehidupan.

"Diperlukan kepekaan dalam mengembangkan empati sosial dan chemistry kebangsaan melalui perubahan sikap dan perilaku empirik, baik saat menjalankan tugas, di rumah, dan di ruang-ruang publik. Jangan hanya karena perilaku dari segelintir 'oknum anggota' lantas meluruhkan semangat kerja yang selama ini telah terbangun," pungkas Dede mengakhiri keterangan.

(*)